Mengenai Saya

Foto saya
Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
SEHATI (Semua Hanya Titipan Ilahi ), SEHATI = merek dagang aneka makanan ringan produksi "Dhunuk Snack" - Argomas Timur 34, Salatiga. 0298312722/08883946873

Selasa, 16 November 2010

KRENOVA JATENG

Empat Krenova Jateng Raih Penghargaan Menristek

Semarang, CyberNews. Empat pemenang Kreativitas Inovasi Masyarakat (Krenova) dari Jateng berhasil memperoleh penghargaan dari Menteri Riset dan Teknologi Drs H Suharna Surapranata MT saat peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 15 di Jakarta, belum lama ini.

Kepala Balitbang Provinsi Jateng Drs Agus Suryono MM mengatakan, penerima penghargaan tersebut merupakan empat dari 102 inovator yang terpilih di seluruh Indonesia. "Mereka adalah pemenang Krenova Jateng saat pagelaran Jambore Teknologi 2010 bulan Agustus lalu," ungkapnya.

Inovator tersebut di antaranya, Dwiky Rendra Graha Subekti yang memanfaatkan biji durian sebagai dasar industri berbasis pedesaan dengan sistem Promita asal Kota Semarang, Oesman Raliby ST MEng dan Dra Retno Rudjiati MKes penemu alat pengering krupuk dengan memanfaatkan gas buang proses produksi dari Mertoyudan Kota Magelang.

Lalu, Justina Sukisworo penemu alat coating tepung dan peniris minyak dari Kota Salatiga, dan Agus Suwandi SPd penemu pengatur listrik dengan optocoupler pada setrika listrik asal Kabupaten Wonogiri.

Agus menambahkan, penilaian juri kepada penerima penghargaan ini berdasarkan kompetensi, dedikasi dan reputasi mereka di bidang inovasi bisnis. Dan dari pengalaman dan penghargaan yang diterima keempat inovator tersebut, harapannya dapat memberi inspirasi kepada para peneliti untuk terus berkarya dan menemukan teknologi tepat guna.

( Anggun Puspita /CN16 )

Minggu, 17 Oktober 2010

PENERIMAAN PENGHARGAAN

Jambore Teknologi 2010

Gubernur Jateng Berikan Penghargaan Krenova

image

SM CyberNews/Yulianto

Semarang, CyberNews. Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Deputi Jaringan Iptek Kementrian Ristek Prof. Dr Sasmita pada pembukaan Jambore Teknologi 2010 di Semarang memberikan penghargaan terhadap 10 warga kreatif dan inovasi (krenova), Jumat (30/7).

Dari 10 warga peraih penghargaan krenova itu semuanya berasal dari Jawa Tengah, mereka menemukan teknologi baru tepat guna yang sangat membantu masyarakat.

Dalam sambutannya Gubernur mengharapkan akan lebih banyak lagi tepat guna yang ditemukan oleh kalangan kreatif dan inovatif, dengan banyaknya teknologi tepat guna yang bermunculan dan merata di berbagai daerah kedepannya akan banyak menyejahterakan masyarakat.

Ke sepuluh orang yang hari ini diberi penghargaan oleh Gubernur Jawa Tengah dan Deputi Jaringan Iptek Kementrian yakni Andre Widiyanto, Suseno, Ir Suwardoko MT, Yustina Sukisworo, Ainul Inayah, Dwiki Redra Graha Subekti, Suwandi S. Pd, Usman Ralibi, Dani Nugroho dan Kusnawan.

Jumat, 17 September 2010

Inovasi "Nakal" Eko Susilo
Senin, 2 Agustus 2010 | 02:36 WIB

Antony Lee

Eko Susilo sejatinya pengusaha camilan skala kecil di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Namun, lewat kenakalan idenya mengatasi ”tembok” rintangan usaha, ia mendapat julukan baru sebagai inovator. Ia memodifikasi dan merancang alat-alat spesifik yang membuat kegiatan produksinya lebih efisien dan berkualitas.

Usaha pembuatan camilan Sehati milik Eko di Kecamatan Argomulyo, Salatiga, dirintis lewat camilan kacang bertepung, Juli 2006, dengan modal Rp 150.000. Kini, usaha itu sudah berkembang dengan enam jenis produk, di antaranya kacang tanah bertepung, kedelai rasa keju, kedelai rasa bawang, kedelai rasa manis, dan kedelai rasa keripik. Produk ini sementara dipasarkan di Kota Salatiga dan Bali.

Ia kini mempekerjakan enam karyawan dengan omzet sekitar Rp 20 juta per bulan. Padahal, awalnya ia memulai usaha dengan menjajakan kacang telur dalam kemasan mini Rp 500 per bungkus dari warung ke warung. Lama-lama kacang produksi Eko itu disukai warga, dan pesanan bertambah.

Hambatan pertama ditemuinya sebulan setelah memulai usaha. Kacang tepung miliknya hanya bisa bertahan sepekan karena minyak sisa penggorengan belum sepenuhnya kering. Selain itu, menggoreng kacang pun banyak menghabiskan minyak. Untuk menggoreng 15 kilogram kacang, ia membutuhkan 2,5 kilogram minyak goreng.

Hal itu terjadi karena ia masih mengeringkan dengan metode manual, ditiriskan di nampan. Saat dia sedang putar otak mencari cara penirisan minyak yang lebih efisien, tiba-tiba muncul ide ketika ia melihat istrinya mengeringkan pakaian dengan menggunakan mesin cuci. Tanpa sepengetahuan istrinya, Eko memasukkan satu serok kacang tepung yang baru digoreng ke unit pengering di mesin cuci itu.

Benar saja, dalam waktu satu menit minyak terpisah dari kacang tepung itu sehingga produknya bisa bertahan hingga lebih dari sebulan. Ia memanfaatkan gaya sentrifugal yang dihasilkan mesin pengering itu. Minyak goreng yang mengendap di dasar mesin kemudian dialirkan keluar dari selang pembuangan.

”Setelah berhasil saya bersihkan mesin itu, baru laporan ke istri. Dia bilang ngawur (sembarangan), tetapi begitu lihat hasilnya dia jadi mendukung. Ha-ha-ha,” tuturnya yang ditemui di rumahnya di Kecamatan Argomulyo, beberapa waktu lalu.

Mesin cuci bekas

Eko meminta istrinya berhenti menggunakan unit pengeringan itu dan mensterilkannya. Selama beberapa pekan, ia menggunakan unit itu sebagai alat peniris minyak. Namun, lantaran digunakan untuk meniriskan kacang yang masih panas, mesin itu pun rusak. Ia kemudian berburu mesin cuci bekas dan membeli timer serta pengering seharga Rp 125.000. Alat itu dimodifikasi dan dilapisinya dengan seng di bagian luar sebagai pelindung. Secara keseluruhan ia menghabiskan dana sekitar Rp 700.000 untuk menghasilkan alat peniris minyak versinya itu.

”Baru belakangan saya tahu ada centryfuse (alat peniris minyak) yang dijual di pasaran, tetapi harganya mahal, sekitar Rp 4 juta per unit dengan kapasitas sama yang saya modifikasi,” tutur lulusan STM bidang otomotif itu.

Kenakalan berpikir Eko tidak selesai di sana. Ia mengaku kerap bekerja mulai pukul 03.00 sampai pukul 08.00 untuk melumuri kacang dengan bumbu dan tepung. Ia pun bekerja hingga pukul 17.00 untuk menggoreng. Eko dan istrinya hanya mampu memproduksi sekitar 15 kilogram kacang. Dalam benaknya muncul pertanyaan, kapan dia bisa menjalani kehidupan sosial jika bekerja tidak efisien.

Eko lalu kembali bereksperimen dengan melihat sistem kerja mesin pengaduk semen. Dia meminta perajin logam di Tumang, Kabupaten Boyolali, membuat alat berbentuk seperti bola dari aluminium dengan bagian atas terbuka. Alat ini digunakan untuk melumuri bumbu kacang. Setelah itu, ia membuat dua alat lagi dari modifikasi mesin-mesin bekas, yakni alat melumuri tepung serta mengayak kacang. Tiga alat serangkai ini membuat seluruh proses hanya memakan waktu 40 menit, dari sebelumnya tiga jam.

Tidak berpuas diri, ia mencoba merancang sejenis sensor termometer yang dipadukan dengan sistem otomatisasi sehingga pekerjanya bisa dengan mudah mengetahui suhu ideal dan berapa lama bisa meninggalkan penggorengan untuk mengerjakan tugas lainnya.

”Saya coba alat ini malam- malam, takut ketahuan istri. Eh, malah minyaknya tumpah semua. Saya coba lap semua untuk menghilangkan jejak, tetapi istri saya tetap tahu karena masih ada sisa di belakang kompor,” ungkapnya.

Mitra UMKM

Salah satu kelebihan Eko, ia tak berniat mematenkan alat- alatnya. Ia juga membuka ”dapurnya” untuk dilihat pengusaha kecil lain. Setidaknya dalam sebulan ada 3-4 pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mendatangi Eko. Ia juga bersedia membuatkan mesin serupa untuk digunakan pelaku UMKM sejenis dengan biaya pengganti ongkos pembuatan Rp 1,2 juta.

”Buat saya, UMKM itu boros di tenaga kerja, sedangkan alat mahal. Oleh karena itu, harus bisa efisiensi dengan inovasi alat sendiri,” tuturnya.

Inovasi alat ini diakui Eko bukan perkara mudah karena ia berkali-kali gagal. Ia sampai menjual mobil Mazda tahun 1993 miliknya seharga Rp 17,5 juta untuk memodali alat-alat buatannya itu. Kenakalannya dalam eksperimen tidak terlepas dari pengalaman Eko selama lebih dari 20 tahun bekerja di bidang produksi di perusahaan ban, dan di percetakan di Tangerang, Banten, serta Salatiga. Saat dia memutuskan berhenti bekerja dan menjadi bos atas dirinya sendiri, bekal pengetahuan mekanik itu ternyata bisa dimanfaatkan.

Kegagalan inovasi tidak pernah membuat dia tertekan, tetapi pengalaman pahit didapatnya di bidang pemasaran. Semula ia sempat memiliki agen di Yogyakarta, Magelang, dan Klaten. Namun, ia justru harus menombok karena agen itu menerima barang dan membayarkan separuh sehingga modalnya habis terserap. Enam bulan kemudian, ia memutuskan memusatkan usahanya di Salatiga dan Bali terlebih dahulu.

”Saya ini memimpikan ada cluster usaha kecil dan menengah camilan, dan sama-sama produksi untuk ekspor. Saya tidak berambisi sendirian maju untuk jadi perusahaan besar, tetapi bagaimana bisa bermi- tra dengan sesama UMKM,” harapnya.

EKO SUSILO

• Lahir: 18 Desember 1962 • Istri: Yustina Sukisworo (41) • Anak: Abel Jatayu Prakosa (18), David Permadi (12), Serafim Prasetya (6) • Pendidikan: STM Otomotif Leonardo, Klaten (1981) • Usaha: Pemilik UKM Sehati Salatiga, produsen camilan • Penghargaan: 10 Besar Lomba Kreativitas Alat Tingkat Jateng tahun 2010.